🧠  brain dump

Merangkul Keberagaman

id / en

Thoughts |

πŸ‘©πŸ»: "Liat, deh. Itu pengemis ganggu banget, ya. Semua yang lewat disamperin, dimintain duit."

πŸ§‘: "Ya wajar lah kan emang dia pengemis."

πŸ‘©πŸ»: "Iya, sih. Tapi kan harusnya dia beretika lah, kan siapa tau orangnya lagi buru-buru, coba ngemisnya tuh pinter dikit, komunikasinya dimainin, kan enak."

πŸ§‘: "Lah, kamu liat dari sudut pandang dia juga dong. Kalo dia jago etika, pinter, jago komunikasi juga, ngabakal dia jadi pengemis, mending jadi pengacara."


Perbedaan pendapat adalah suatu kelumrahan yang fix terjadi di zaman ini, mengikuti beragamnya sudut pandang orang-orang terhadap segala sesuatu.

Setiap manusia memiliki sudut pandangnya masing-masing, yang terbentuk oleh beragam pengalaman yang dialaminya selama menjalani kehidupan.

Misalnya, seorang pengusaha sukses pasti memandang ilmu tak penting, yang penting praktek, karena dia telah melihat bahwa teman-temannya yang gagal berbisnis adalah mereka yang hanya pandai teori dan tak pernah praktik.

Tapi, seorang ilmuwan akan memandang praktik tanpa ilmu adalah omong kosong bahkan berbahaya, karena mereka telah melihat bahwa teman-temannya yang gagal dalam eksperimen adalah mereka yang tidak memahami objeknya dan hanya asal coba saja.

Nah, karena setiap manusia menjalani kehidupan yang berbeda-beda juga memiliki pengalaman dan wawasan yang beragam, maka tak akan bisa terhitung banyaknya sudut pandang yang bisa diambil untuk melihat kehidupan; peristiwa, tragedi, pengalaman, kejadian, kehebohan.

Kita sering melihat manusia-manusia memperdebatkan fenomena-fenomena tertentu, memperjuangkan sudut pandangnya agar menjadi yang paling benar.
Bisa dari segi agama, segi ekonomis, dan dari segisegi lainnya.

Lalu, kita dibuat bingung.

Sudut pandang manakah yang benar?

Bila kita menginginkan kebenaran, cara yang paling mungkin adalah dengan mengikuti sudut pandang orang yang paling paham dengan hal-hal terkait masalah tersebut.

Ketika berbicara masalah agama, ikuti pendapat para ulama.

Ketika berbicara masalah pendidikan, ikuti pendapat para cendekiawan.

Ketika berbicara masalah teknologi, ikuti pendapat para teknisi.

Terlebih di zaman ini sering kali tersebar hoax dan post-truth, maka dibutuhkan usaha yang lebih untuk mengungkap kebenaran dari balik kabut.
Sumber-sumber yang salah dan menyimpang jangan dijadikan acuan.

Setelah mendapat kebenaran, akan kita temui orang-orang yang berbeda pandangan. Pandangan mereka sama sekali berbeda, namun bukan tak mungkin mengandung nilai kebenaran yang sama. Dimulailah adu kata untuk menguji apakah pantas pandangan itu dibela.

Padahal, bila sudah demikian, mungkin sudah saatnya untuk saling membuka pikiran. Dengan melihat dari sudut pandang lawan, rasa jengkel, iri, dan kesal akan terganti dengan rasa hormat, respek dan segan.

Meraih kebenaran dengan menggabungkan pemikiran, bukan saling menjatuhkan, karena kelebihan dan kekurangan dimiliki setiap orang. Selesailah masalah perbedaan.

Terakhir,
Mari kita sebut ini dengan keberagaman alih-alih perbedaan, karena ini bukanlah perbedaan yang memancing pertikaian, melainkan keberagaman yang membentuk kesempurnaan.



Share // Feedback


← Sebelumnya
Ngobrol di Gocar
Selanjutnya β†’
Bangga Jadi Manusia?